Refleksi Sapi dan Generasi yang Selalu Menyesal 5

Jumat, 2 Okt '09 07:03

Kalimat tersohor dari Socrates, jauh sebelum hari ini, "hidup yang tidak pernah dipersoalkan adalah hidup yang tidak layak untuk dijalani." Socrates pun mempersoalkan hidup. Ia tidak pernah berkhutbah tentang bagaimana cara hidup yang lebih baik, tidak juga melakukan vonis terhadap sesuatu, yang pada zamannya (barangkali) dianggap keburukan oleh kebanyak orang. Konon, kepada orang-orang yang ditemui, Ia hanya mengajak untuk mempertanyakan hidup.

Demikian pula dengan Rumi, "siapakah aku di dunia yang rumit ini?" ujar Rumi pada salah satu Gazalnya. Eksistensi terlihat benar-benar dipertanyakan.

Tidak jauh berbeda dengan Descartes, yang juga dikenal banyak bernarasi perihal eksistensi. Bahkan "aku berpikir maka aku ada" yang diwariskan Descartes merupakan satu bentuk interpretasi eksistensial. Lewat metode kesangsian, Ia ingin mengajak untuk selalu ragu, bertanya, mempersoalkan. Dengan begitu, kata Descartes, nalar bisa berkerja sampai titik paling jauh. Metode kesangsian juga ia yakini sebagai jembatan vertikal yang menguhubungkan manusia dengan Tuhannya.

Apakah filosof dan penyair saja yang mempersoalkan. Nggak lah. Nyatanya semua orang berfilsafat, mulai bangun tidur sampai tidur lagi (mirip lagunya Mbah Surip ya), meskipun tidak semua orang bisa disebut filosof. Semua orang juga berhak menulis puisi, walaupun tidak semua orang dianggap sebagai penyair.

Mempersoalkan, seperti yang dimaksud Socrates, Rumi dan Descartes di atas bukan melulu tentang bagaimana menjalani hidup atau eksistensi kedirian yang lain. Akan tetapi juga menyangkut fenomena-fenomena sosial dan alam. Jika ketiganya hidup pada hari ini, di Indonesia, maka mereka akan mempersoalkan kenapa negeri ini terus dilanda gempa. Bedanya, mereka, juga akan melakukan itu jauh-jauh hari sebelum gempa.

Tadi saya sempat baca beberapa puisi tentang gempa, salah satunya dari seorang kawan, Fandi Ahmad. Puisi itu diposting di catatan facebook.

Gempa Negeriku

kenapa ya, negeriku ini terus diterjang bencana?

aku sebisa tenaga setiap ada bencana terus membantu, apa saja
mulai besok pagi, aku mau menyetop bantuanku.

lalu menggantinya dengan jawaban atas pertanyaan;
kenapa ya, negeriku ini terus diterjang bencana?

tapi belum ku temukan jawaban itu
kenapa ya, negeriku ini terus diterjang bencana?

adakah yang tau, siapa saja
kenapa ya, negeriku ini terus diterjang bencana?

Puisi ini memang sederhana, miskin metafor, tapi berhasil melakukan otokritik sekaligus menghadirkan ironi teramat dalam, terutama pada larik terakhir, adakah yang tau, siapa saja / kenapa ya, negeriku ini terus diterjang bencana? Selain sebagai bentuk kesasangsian, di sisi lain pusi ini juga rupanya sedang mencibir, demikian kesan yang muncul. Jika puisi ini adalah famplet, maka kalimatnya mungkin akan menjadi begini, "Sial! Tidak ada lagi yang pe(r)duli dengan negeri ini, semua orang busuk, hipokrit, individualistik! Akhirnya gempa harus datang lebih sering!"

Puisi lain, yang juga diposting hari ini, dari Hasan Asphani, judulnya Gegap Gempa. Puisi Hasan Asphani, jika mencoba melakukan proses dialogis pada dua puisi, saya anggap sebagai (sedikit jawaban) atas pertanyaan-pertanyaan dalam puisi Fandy.

DIA mungkin hanya ingin menyapa
dengan hai! Darimana? Apa kabar?
Dengan bahasa yang amat berbeda

Dia mungkin hanya ingin bertanya,
dia panggil aku, kamu, kita, berulang-
kala, tapi kita tak menghiraukannya

Dia pasti hanya ingin sebentar saja,
mempermisikan diri, dengan banyak
maaf, dan gerik yang amat berhati-hati.

Sebagai bagian dari kesangsian, apakah puisi-puisi tersebut datang terlambat (setelah gempa)? Tidak. Apalagi ketika dipahami puisi sebagai "anak" dari refleksi dan kontemplasi terhadap sesuatu yang sedang atau sudah terjadi. Puisi tidak pernah datang terlambat, juga tidak pernah tepat waktu. Karena puisi tidak punya jadwal khusus kapan harus dilahirkan. Berbeda dengan anggota dewan, yang harus pelantikan pada waktu yang sudah ditetapkan, apapun yang yang terjadi di luar sana, atau kita yang pagi ini harus minum kopi dan sarapan.

Hanya, persoalannya, yang membuat saya sangsi adalah, jangan-jangan lebih banyak orang mulai bertanya hanya ketika tekanan sosial dan alam (gempa) sudah benar-benar tampak dan menekan. Di luar itu, tidak ada Rumi maupun Socrates yang sepanjang waktu melakukan upaya pembongkaran terhadap sesuatu yang justru belum tampak. Atau, bisa jadi lebih banyak orang telah menjelma puisi, yang kerap kali datang baru setelah gempa. Dengan kata lain, yang muncul bukanlah akumulasi dari refleksi komunal yang sudah terkumpul jauh sebelum gempa, melainkan refleksi individual setelah gempa, yang sudah tentu dipaksa bersatu, mirip gerombolan sapi. Kita sebut saja itu "refleksi sapi."

Setidaknya, mengutip Al Gazhali, saya tidak pernah sangsi dengan kesangsian saya. Dan bila nanti kita (termasuk saya) terlambat lagi, maka akan ada julukan lagi, "generasi yang selalu menyesal."

 


Tag: Bencana, Gempa, Kesangsian, Descartes, Socrates, Puisi, Eksistensi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Fandy Lasinrang 1 suka | 0
Tidak ada penjadwalan atas pertanyaan-pertanyaan hidup. Dia (pertanyaan itu) bisa datang, bisa pergi seperti "bukan pasar malam"nya Pram. Dan dia juga tidak bisa menunggu, kapan yah saya akan bertanya. Sebelum gempa deh, biar saya tidak dijustifikasi "generasi latah" (bahasaku). Atau setelah gempa, biar di cap generasi "tanggap bencana" melelakat apik di diriku. Ah, pertanyaan hidup wajib, harus, diinginkan atau tidak. Namun terkadang ada yang terlewatkan untuk dipertanyakan, dan alam mengingatkan kita. Yah sudah, diamkan saja, ntar malu-maluin karena akan di cap "refleksi sapi" ada tekanan, atau ada cambuk baru mau bergerak. Weleh-weleh, akhirnya kita takut, malu-malu mau untuk menelorkan pertanyaan. Bingung deh akhirnya; aku boleh bertanya tidak? Ah enggak deh, ntar di apa-apain, dikeloni misalnya, he he he...
Kadang orang akan sadar dia Homo kalau baru tahu hasil visum dokter ada kelainan di anusnya. Lalu dia bertanya; saya homo nggak yah...ha ha ha....I LOVE U Zak!!!
Oo Zaki 0 0
Fandy Lasinrang: Tunggu, tunggu.. : D sepertinya ada sedikit salah pengertian. Saya tidak bermaksud memvonis puisimu sebagai "generasi sapi." Justru saya kasi jempol pada kesederhanaan puisimu yang diam-diam menyimpan ironi teramat dalam. Demikian juga dengan Hasan Asphani, mana mungkin dia dan puisinya harus disalahkan karena, datang terlambat? yang patut persoalkan, atau disangsikan, seperti yang saya katakan di awal adalah, kita yang terlalu lemah untuk sekedar mengadili diri sendiri. Masih ragu untuk sangsi pada diri sendiri. Hah, mbulet... keabotan mikirku.. Sebentar, saya sederhanakan dulu sambil minum kopi ya.. : D
Como Bacomboy 1 suka | 0
Sapi dan puisi..
Jauh sekali perdebatan kalian..he
Bukan itu yang aku elukan.Banyak orang selalu mempertanyakan "bagaimana aku?".Pertanyaan "bagaimana kita?" bahkan nyaris tak pernah aku dengar lagi.Apa mungkin indivudualisme sudah terlanjur deras mengucur tanpa ada tembok besar yang bisa membendung??
Sebuah pertanyan yg agak "philosopis"...
Mungkin . . .
Maknailah hidupmu dari cermin kehidupanmu.
sangat sederhana.
Irwan Bajang 1 suka | 0
hmmm...
.renungan yang mendalam!
Seorang teman saya pernah bertanya pada saya: apakah aku termasuk orang yang beruntung, karena aku memikirkan banyak hal yang tak pernah terpikirkan oleh orang lain? atau, apakah justru aku sial, karena telah menghabiskan waktu yang indah hanya untuk merenungi banyak hal yang seharusnya aku abaikan dan tidur lelap tanpanya?
Saya hanya menjawab: nabi2 dan orang (yang kita anggap) suci, berpikir dan merenung selalu, makanya mereka bisa mendefinisikan sesuatu. Apakah mereka sial?
Lalu kami tertawa setelahnya..
hahahahah
arman dhani bustomi 0 0
lalalalalalalalala

lululululululu

lilililili li


dan semuanya tenggelam dalam sentimentil nya suara kata-kata

Silahkan login untuk memberikan pendapat