Belok Kiri Jalan Terus 2

Jumat, 2 Okt '09 04:19

Ketika pertama kali memasuki kompleks Gedung Ormawa Fakultas MIPA UNEJ, ya ampun, kita pasti pasti berpikir sedang terjebak di dalam sebuah akurium raksasa. Karena seluruh ruang sekretariat UKM dan HMJ menggunakan dinding kaca tranparan.Terdapat 14 bilik akuarium di sana, eh, maksud saya sekretariat. Salah satunya adalah sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Alpha.

Malam itu, Jumat, 7 Agustus 2009, sehari setelah kepergian Rendra, sebuah diskusi bertema agak klasik, "Memamah Ulang Terminologi kiri" digelar. Peserta diskusi diajak melingkar di tengah-tengah bilik akuarium tadi. Sebenarnya lapangan bulu tangkis yang memang disediakan untuk Ormawa. Namun, tak mengapa, diskusi memang harusnya bisa dilakukan di semua tempat, kecuali di kamar mandi, sambil gosok gigi. Hehe...

Beberapa gelas kopi, air mineral, dan kripik -yang datang terlambat sudah menyatu dengan diskusi- seperti rencana awal, terminologi kiri mulai dimamah ulang.

Istilah kiri, dalam lanskap konseptual masyarakat kita sejak lama telah menjadi momok menakutkan. Setidaknya karena beberapa hal. Pertama, karena psikologi sosial masyarakat yang masih menyimpan memori horor sekitar gerakan radikal PKI: pembantaian, kekerasan, prilaku biadab, dan lebih utama, PKI berhaluan ideologis kiri. Demikianlah kekuasaan bercerita. Kedua, NASAKOM yang digulirkan Soekarno dianggap sebagai sebuah perkawinan haram karena menghasilkan sistem kekuasaan yang represif. KOM = komunis, adalah kiri, dipercaya sebagai biang kerok kegaduhan. Ketiga, sebagai salah satu arus gerakan pemikiran, kiri masih diklaim sebagai konsepsi paradigmatik anti Tuhan. Karena pancasila mewajibkan semua orang untuk punya satu Tuhan. Ditambah lagi dengan klaim kebenaran dan fatwa, terutama agama mayoritas. Sehingga menjadi kiri otomatis melanggar hukum sekaligus agama. Keempat, ini rahasia kekuasaan, "sebaiknya jangan bilang siapa-siapa," kiri mulai awal menyimpan semangat perlawanan yang dahsyat, istilah kerennya, revolusioner. Tradisi kekuasaan lebih banyak tidak menyukai istilah tersebut. Akibatnya, sepanjang sejarah kita, kiri terus-menerus coba dibengkokkan, dipatahkan terutama sebagai gerakan politik. Kelima, sebentar, saya nyalakan rokok dulu. Kelima, ah, barangkali karena kiri dinilai tidak sopan. Hanya pantas digunakan, maaf, setelah buang air besar. Hehe lagi...

Berangkat dari seluruh klaim di atas, sudah sepatutnya kita melakukan pembacaan ulang terhadap segala hal yang dianggap berbau kiri dengan lebih jujur. Agar di kemudian hari, bias-bias definitif mampu diredam. Dengan begitu, sejarah juga bisa lebih leluasa bicara tanpa manipulasi kepentingan golongan tertentu.

Hhmmm... Sekitar 20 kepala hadir pada diskusi malam itu. Untung saja, dingin sepertinya gagal memasuki area kompleks Ormawa FMIPA. Cak Usman dan Mas Pran -yang bersedia menemani diskusi juga nampaknya cukup bertenaga untuk diajak berbagi "kehangatan."

Marx, Sedikit Saja
Membaca kiri menjadi mustahil jika tidak terlebih dahulu melakukan pembacaan gagasan-gagasan Karl Marx. Baik Cak Usman maupun Mas Pran sama-sama banyak menyinggung Marx, tokoh paling penting dalam arus gerakan kiri. Meskipun istilah kiri bukan berasal dari Marx, namun landasan filsafati dan idelogis kiri harus diakui dihembuskan oleh Marx. Bagaimana istilah kiri kemudian mendapatkankan ruhnya sebagai sebuah gerakan pemikiran sekaligus gerakan massa yang memimpikan perubahan demi distribusi kesejahteraan yang lebih adil.

Salah satu gagasan paling penting Marx ialah menegenai konsepsi basic struktur (struktur dasar) dan supra struktur (struktur atas). Dimana basic struktur tersebut berupa ekonomi (terutama dilihat dari corak hubungan produksinya atau pola ketimpangan dalam hal kepemilikan maupun pemanfaatan sarana-sarana produksi di dalamnya).

Sedangkan yang disebut dengan supra struktur (struktur atas) bisa berwujud banyak hal. Diantaranya adalah agama, politik, sosial-budaya, sistem pendidikan, negara dan sebagainya. Artinya Marx menganggap bahwa di dalam struktur-struktur sosial yang berkembang di masyarakat terdiri dari dua bagian besar tersebut.

Relasi yang berjalan antar kedua stuktur itu bersifat deterministik (mempengaruhi secara absolut). Dalam hal ini adalah basic struktur yang mempengaruhi secara mutlak dan fundamental terhadap keberlangsungan supra struktur tadi. Dengan ungkapan yang lebih sederhana, sesungguhnya yang membentuk ciri (corak) sistem di tingkatan supra struktur adalah kondisi riil di wilayah basic struktur (ekonomi). Semisal ketika sistem ekonominya bernuansa kapitalistik (seperti kondisi di Indonesia sekarang) maka otomatis sistem politik, sosial-budaya, keagamaan, pendidikan maupun tatanan negaranya juga kapitalistik.

Hal itu bisa dilihat dari kebijakan-kebijakan yang keluar dari rahim negara selama ini. Nuansa kontradiksinya masih sangat kental. Dimana diskriminasi sebagai implikasi kebijakan tersebut menjadi teramat jelas. Dengan kata lain distribusi kesejahteraan hanya dirasakan oleh kelas minoritas.

Namun negara -secara ideologis -juga menjadi "musuh utama" bagi pemikiran-pemikiran Marxis. Terutama jika ditilik dari teks-teks klasik Marx dalam karyanya The Communist Manifesto. Karena capaian terakhir dari gerak Materialisme-Dialektika-Historis (MDH) Marx pasti akan berakhir pada penciptaan masyarakat tanpa kelas sekaligus tanpa negara, yang bagi Marx, hanya bisa dicapai lewat jalan revolusi dan diktator proletar. Dengan kata lain memoar dari F. Fukuyama tentang The End of History pada titik kemenangan liberalisme-kapitalisme tidak lantas dimaknai sebagai kebenaran yang terhindar dari hukum dialektis-objektif.


Dalam perkembangannya, buah pemikiran Marx menjadi bersayap. Bermunculan banyak tokoh yang mendapat "berkah" dari Marx. Umumnya, tokoh-tokoh tersebut kemudian terkonsentrasi pada arus gerakan (pemikiran) yang jauh lebih spesifik seperti feminisme, sastra, teologi, sosiologi, dan lain-lain. Tidak sedikit pula yang masih bertahan dan kembali menganut tradisi klasik Marx.

Mengambil Semangat Gerakan Kiri
Diskusi malam itu juga banyak mengonce'i kerangkeng kapitalisme global beserta saudara-saudara kandungnya. Kerangkeng-kerangkeng semacam itu lah yang paling punya andil besar dalam meringkus gerakan kiri. Mas Pran sempat memaparkan bagaimana Punk, yang dahulu merupakan salah satu dari gerakan perlawanan bisa dengan mudah dikodifikasi oleh kekuatan-kekuatan raksasa tersebut. Seperti yang kita pahami, Punk kini menjadi bagian dari gaya hidup yang sudah tersedia di lingkar pasar kapitalisme. Dengan kata lain, untuk menjadi seorang Punk, maka otomatis juga harus mampu membayar ongkos salon, asesoris dan lain-lain.

Bukan hanya Punk, bisa dikatakan hampir seluruh identitas komunal, yang dahulu menjadi perangkat perlawanan berhasil dijinakkan. Genre musik Rock juga bisa dimasukkan ke dalam kategori tersebut.

Pertanyaan mendasar, apakah kiri sudah benar-benar mati? Atau dengan kata lain, apakah semangat komunal, kritis, sosialis, pembelaan terhadap kaum marginal, revolusioner (dalam pemaknaan lebih fleksibel), sayang tetanggal dan sejumlah hal yang menjadi impian orang-orang kiri sudah benar-benar mati? Seberapa individual kah masyarakat kita saat ini? Tunggu, orang-orang kiri sebenarnya tinggal berapa sih?

Malam tambah larut, akhirnya diskusi jumat malam itu diakhiri dengan satu pernyataan kunci, "kiri, ternyata masih seksi."

"Belok kiri jalan terus..." [Oo Zaki, Rizki Akbari, Hari Wibowo]

Tulisan ini disarikan dari diskusi Jumat Malam (7/8), sekaligus sebagai ucapan belasungkawa pada orang-orang yang dianggap kiri dan menjadi korban utama tragedi 65.

 


Tag: Komunis, Kiri, Marx, PKI

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

ndableg tenan 0 0
Bacaanna itu loch. Marx, rek!

: D
Oo Zaki 0 0
Kiri masih seksi.. : )
Hehe, Tapi saya gak mau habiskan waktu untuk--katanya merebut revolusi.

Silahkan login untuk memberikan pendapat