Aku Mengampunimu 0

Kamis, 17 Sep '09 08:15

                                     AKU MENGAMPUNIMU

            Viva Lamuerte (hidup kematian) kembali hadir dan menghantui kehidupan kita. Moto ini dahulu dijunjung oleh pengikut Jenderal Millan Astray, menjelang perang saudara yang terjadi di Spanyol (1936). Mereka selalu berseru-seru viva lamuerte viva lamuerte. Viva Lamuerte adalah sebuah semangat untuk menghancurkan segala sesuatu yang hidup menjadi benda mati, memiliki keinginan dan hasrat untuk menghancurkan apa saja, siapa saja, bahkan diri mereka sendiri (sangat mirip dengan tindakan bom bunuh diri). Kelompok ini sangat memusuhi kehidupan. Semangat ini erat dengan Nekrofialia yang memiliki arti ketertarikan kuat terhadap segala sesuatu yang mati, membusuk, beraroma busuk, dan berpenyakit. Ini merupakah hasrat untuk menceraiberaikan struktur mahluk hidup. Contoh-contoh semangat nekrofilis bisa kita lihat dalam catatan sejarah kelam dunia ini. Pembantaian masyarakat Yahudi, rezim Uni Soviet yang membantai 70 juta warganya, peristiwa Nanking, dan masih banyak lagi.

            Semangat nekrofilia sekarang sedang gencar-gencarnya mencari pengantin. Pengantin untuk menghacurkan manusia (mahluk hidup) menjadi benda mati. Rentetan pengeboman di luar negeri dan di tanah air merupakan saksi dari aksi-aksi mereka. Beberapa di antaranya adalah peristiwa di Gedung Arium Senin Jakarta (1998), peledakan gereja-gereja pada waktu Natal (2000/2001), Bom Bali 1 (2002) dan Bom Bali 2 (2005), serta kasus yang terkahir adalah peledakan di Hotel JW Mariott dan Ritz Carlton, dan masih banyak lagi.

Tindakan Teror

            Erich Fromm dalam bukunya The Anatomy of Human Destructiveness menunjukkan bahwa agresi dan destruksi dapat diminimalkan dalam struktur motivasi manusia. Fromm menegaskan optimismenya bahwa, jika agresi merupakan sesuatu yang terwarisi secara biologi di dalam gen manusia, maka ia tidak bersifat spontan namun merupakan pertahanan diri terhadap bahaya yang mengancamn kepentingan hayati manusia, perkembangan dan kelangsungan hidup dirinya dan spesiesnya. Agresi defensif ini relatif kecil pada kondisi primitif tertentu manakala manusia bukan merupakan ancaman terhadap sesamanya. Lebih lanjut, sikap sadisme tindakan para terorisme bukanlah merupakan sifat bawaan. Tentu saja hal tersebut bisa diatasi atau minimal dikurangi bila kondisi sosial-ekonomi dalam kondisi yang baik dan bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.

            Pada dasarnya akar masalahnya adalah sistim sosial-politik-ekonomi-budaya yang sangat eksploitatif, mendominasi dan memanipulasi manusia, apakah itu dalam skala lokal, nasional, regional, maupun global. Adanya tekanan dari manusia lainnya, mengakibatkan sikap agresi dan destruktif tersebut menjelma menjadi tindakan nyata. Hal ini kemudian diperparah dengan adanya legitimasi bahwa membunuh itu hukumnya halal dari ideologi tertentu. Manusia berubah menjadi menjadi homo homini lupus.

Spirit Biofilian

Bila kita memang ingin menghilangkan (meminimalkan perilaku-perilaku yang menjunjung viva lamuerte, destruktif, sadistis) kita harus membongkar sifat-sifat nekrofilian tersebut. Salah satu caranya adalah dengan mengumandangkan gerakan peradaban biofilian-peradaban yang mencintai kehidupan dan kemanusiaan. Manusia kembali harus diajarkan cinta kasih terhadap sesama tanpa harus memandang manusia itu dari golongan mana. Tidak ada pembedaan antara Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan kebudayaan yang lain. Semua tindakan yang bersifat menghilangkan nyawa manusia atas dasar apapun, termasuk atas dasar agama, tidak bisa dibenarkan.

Saatnya Berbenah

Cukupkah tindakan preventif terorisme hanya dilakukan oleh aparat kepolisian? Apakah itu dengan melakukan razia, sweeping, atau bahkan pengontrolan dakwah-dakwah di masjid? saya rasa itu tidak cukup. Dari data-data yang dihasilkan terbukti pelaku bom bunuh diri berasal dari kalangan ekonomi lemah. Mereka rela "martir" demi ideologi yang mereka anut, membunuh orang kafir adalah halal dan ganjarannya adalah surga.

            Pernahkah kita berfikir apa yang akan terjadi dengan sanak saudaranya kelak? Siapa yang akan menanggungjawabi kebutuhan anak istrinya kalau suaminya sudah tidak ada? Ini lah permasalahan yang belum terjawab di negeri ini. Kita terkadang hanya berteriak, apa maunya sih teroris itu, bikin malu negara saja bahkan membikin negara ini semakin susah. Sadar atau tidak sadar kita sudah memberikan sikap tidak bersahabat kepada mereka yang "tertuduh" sebagai teroris. Kita berharap mereka semua dihukum seberat-beratnya sehingga tidak membuat susah bangsa ini.

            Benarkah demikian? Itu hanya jawaban sementara. Kita juga tidak pernah mengetahui 'pengantin' itu sudah menebarkan apa kepada anak-anaknya. Barangkali memang teroris-teroris itu sebelum melaksanakan misinya sudah mewanti-wanti kepada orang-orang terdekatnya (baca keluarga) untuk tetap melanjutkan perjuangannya. Mereka sudah menanamkan ideologi tersebut jauh-jauh hari.

            Oleh keluarga mereka, ideologi akan semakin meruncing dengan adanya sikap resistensi kita terhadap mereka. Sikap untuk membunuh kaum kafir itu akan menjadi-jadi. Percayalah, ideologi tidak akan pernah lenyap dari muka bumi ini, hanya orang-orangnya yang mati, namun spiritnya selalu ada.

            Terkait dengan tulisan Erich Fromm, sikap kekerasan itu tidak muncul begitu saja. Sikap destruktif itu muncul tatakala ia dibutuhkan. Sekali lagi, akar masalahnya adalah sistim sosial-politik-ekonomi-budaya yang sangat eksploitatif, mendominasi dan memanipulasi manusia, dalam skala lokal, nasional, regional, maupun global.

            Kita harus membenahi segala sektor di negeri ini khususnya ekonomi dan politik. Masyarakat yang makmur, kondisi politiknya cenderung stabil. Masyarakat yang sejahtera akan semakin cerdas untuk menganalisis paham-paham atau ideologi yang ditawarkan kepada mereka. Terbukti, Malaysia sangat jarang sekali terjadi bom bunuh diri. Terorisme tidak tumbuh di sana. Kondisi perekonomian membuat mereka tidak tertekan dan tidak mudah dihasut (didoktrin), selain di dukung oleh Internal Security Act (ISA)

            Saatnya kita mengatakan kepada mereka semua, "aku mengampuni". "Aku mengasihi karena kita semua adalah saudara". Berikan mereka peluk dan cium yang hangat kalau mereka diterima dengan baik di negerinya sendiri.

            Saya kira hal tersebut akan semudah indah dengan tibanya hari kemenangan di bulan ramadhan ini. Viv laviva (hiduplah kehidupan). minalaidzin walfaidzin.....

referensi:

buku: Demokrasi Tanpa Kaum Demokrat, Tulisan M Fadjoel Rachman

dan berbagai sumber lainnya.


Tag: nekrofilian, biofilian, terorisme, kekerasan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat